KUALA KURUN – Ancaman kemarau panjang yang berpotensi memicu bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi kawasan Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Gumas, Neni Yuliani, mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi mereka yang berada di titik rawan bencana.
Neni mengungkapkan, bahwa bahwa tren penurunan curah hujan belakangan ini menandakan Kabupaten Gunung Mas telah memasuki puncak musim kemarau. Mengeringnya vegetasi dan semak belukar di kawasan hutan maupun pekarangan, dinilai sangat rentan dan dapat tersulut api dalam hitungan detik.
“Curah hujan di wilayah Kabupaten Gunung Mas saat ini hampir tidak ada. Artinya kita sudah memasuki musim kemarau. Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun,” ujar Neni, Selasa (21/7/2026).
Dia menegaskan, bahwa kabut asap akibat karhutla tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam kesehatan pernapasan, merusak ekosistem hayati, dan mengganggu habitat satwa liar. “Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan saat pembukaan lahan jjuga sangat penting,” ucapnya.
Selain imbauan kepada warga, Neni meminta Pemerintah Kabupaten Gunung Mas bergerak aktif melakukan pemetaan serta kesiapsiagaan logistik di seluruh 12 kecamatan. “Pemerintah daerah hendaknya segera mengantisipasi potensi krisis air bersih dan lonjakan penyakit musiman melalui penyiapan stok medis yang memadai di puskesmas,” tuturnya.
Dia juga menekankan bahwa sinergi antara aparat, sektor swasta, dan warga adalah kunci utama membendung bencana kemarau. “Jangan tunggu api membesar baru semua bergerak. Pencegahan adalah langkah paling efektif agar Gunung Mas tetap aman, masyarakat terlindungi, dan lingkungan tetap lestari,” pungkasnya. (kc3)
